• Silahkan bergabung dengan chat kami di Telegram group kami di N3Forum - https://t.me/n3forum
  • Welcome to the Nyit-Nyit.Net - N3 forum! This is a forum where offline-online gamers, programmers and reverser community can share, learn, communicate and interact, offer services, sell and buy game mods, hacks, cracks and cheats related, including for iOS and Android.

    If you're a pro-gamer or a programmer or a reverser, we would like to invite you to Sign Up and Log In on our website. Make sure to read the rules and abide by it, to ensure a fair and enjoyable user experience for everyone.

Geliat E-Sports di Indonesia

sholeh

TK A
Level 1

Perkembangan e-sports di Indonesia dapat dikatakan cukup pesat. Mulai seringnya diadakan kompetisi-kompetisi e-sports skala kecil hingga besar, dari hadiah yang hanya ratusan ribu hingga ratusan bahkan ribuan dollar sudah mulai banyak diselenggarakan di Indonesia. Salah satu event e-sports terbesar adalah Indonesian Games Championship (IGC) yang dilaksanakan pada April 2018 lalu.

IGC sendiri adalah ajang kompetisi games dan tempat berkumpulnya anak muda yang memiliki keterampilan dalam bermain games. IGC 2018 mempertandingkan permainan ber-genre multiple online battle arena (MOBA) dan casual game. Kompetisi ini diselenggarakan dalam dua kategori, yaitu PC Games dan Mobile Games. Untuk kategori PC Games, jenis game yang dikompetisikan adalah Dota 2. Sedangkan jenis game pada mobile games adalah Vainglory, Mobile Legends, AOV, dan LINE Let’s Get Rich. Para peserta kompetisi ini akan memperebutkan total hadiah senilai lebih dari Rp 600 juta.

Menurut salah satu peserta sekaligus pengunjung event IGC 2018, Vicky Rivaldy, banyak hiburan lain juga yang di tawarkan oleh IGC sehingga mampu menarik massa yang cukup banyak. “Selain menyaksikan kompetisi eSport, para pengunjung IGC 2018 juga bisa merasakan keseruan bermain virtual reality game, console game, serta arcade games. Serta ada penampilan dari JKT48 yang sangat mengundang massa,” tukasnya.

Peran perusahaan pembuat game tidak dapat dipungkiri sangat memiliki andil dalam berkembangnya e-sports. Valve misalnya, perusahaan game-game populer seperti DOTA2 dan Counter Strike: Global Offensive yang juga aktif membuat kompetisi besar nan megah di ranah game. Acara akbar tahunan DOTA2, The International yang melibatkan enam belas tim terseleksi dari berbagai negara, tahun lalu hadir dengan total hadiah 20 juta dolar dan diselenggarakan di stadion berkapasitas belasan ribu penonton.

Prizepool atau hadiah yang cukup besar menjadi daya tarik tersendiri juga bagi para pegiat olahraga ini. Salah satu player yaitu Dani Ahmad, bercerita bagaimana dirinya sudah lama menggiati game DOTA2 dan hadiah yang menggiurkan merupakan salah satu tujuannya dalam bermain game.

“Saya sudah cukup lama main game online dari zaman DOTA1, main game memang hobi saya. Dan tidak ada yang lebih nikmat ketika kamu menggeluti hobi yang dibayar,” jelas Dani.

Senada dengan Dani, Fachrul Mubarak yang pernah menjuarai beberapa kompetisi e-sports mengamini bahwa dari segi keuangan e-sports sangat menjanjikan jika digeluti.

“Saya pernah beberapa kali ikut kompetisi FIFA18, DOTA2 dan beruntungnya juara. Hadiahnya pun lumayan untuk nambah-nambah uang jajan,” ujarnya.

Fakta lain bahwa e-sports mulai merangkak naik menyaingi olahraga mainstream seperti sepak bola ataupun basket, dapat terlihat dari seriusnya media olahraga besar seperti ESPN secara khusus yang menyediakan rubrik e-sports. Dari broadcast, perusahaan media TBS akan bekerjasama dengan ELeague selaku organizer kompetisi turnamen e-sports dan akan menyiarkan pertandingan Counter Strike: Global Offensive selama tiga jam penuh. Di Indonesia sendiri salah satu pionir media e-sports secara broadcasting adalah Liga Game e-Sports TV di Indonesia yang menyiarkan pertandingan-pertandingan e-sports secara berkala.

Mungkin dibandingkan dengan negara-negara maju seperti Korea, China dan Amerika, di Indonesia, e-sports masih menjadi sebuah konsep yang masih cukup sulit diterima oleh generasi tua dengan segala stigma negatifnya. Berita baiknya, sebuah langkah awal telah diambil. Akhirnya cabang olahraga e-sports – atau IeSPA – mendapat dukungan konkret dari pemerintah Indonesia.

IeSPA atau dikenal dengan nama panjang Indonesia e-Sports Association adalah wadah resmi komunitas gamer di Indonesia untuk mengembangkan kemampuan dan prestasi dalam dunia video game kompetitif. IeSPA diprakarsai oleh publisher, komunitas forum game dan beberapa altet game profesional yang ada di Indonesia.

“Pada awalnya memang cukup sulit merubah stigma negatif orang-orang terhadap e-sports. Tapi peran pemberitaan media, prestasi dari atlet-atlet e-sports yang mulai banyak, tak lupa juga dukungan dari pemerintah maupun perusahaan-perusahaan game mulai mengikis anggapan-anggapan buruk tersebut,” tegas Eddy Lim, Ketua IeSPA saat dihubungi via telefon.

Saat ditanya mengenai apa itu e-sports dan game-game apa saja yang memenuhi kualifikasi e-sports. Eddy menjelaskan bahwa e-sports terdiri dari dua kata yaitu ‘elektronik’ dan ‘sports’ atau olahraga didefinisikan sebagai game yang dipertandingkan secara kompetitif. Dalam artian bisa dikompetisikan, diminati secara global, punya peraturan baku. Bukan jenis game kasual yang dimainkan untuk konsumsi sendiri (contoh: game adventure, RPG).

“Permainanya pun harus memenuhi aspek keberimbangan, tidak ada salah satu pihak yang diuntungkan oleh sistem dalam game. Murni skill dan ketangkasan yang diperlombakan,” tambahnya.

Eddy berharap bahwa kedepannya semoga akan lahir lebih banyak talent atlet yang akan mengisi tim-tim profesional terkenal dunia. Juga lebih banyak event organizer luar negeri tertarik datang dan mengadakan event skala internasional di Indonesia.

“Semoga Indonesia dapat disegani e-sports-nya dimata dunia,” lanjutnya.

Berlomba-lomba Menjadi Gamers

Fenomena orang-orang berkumpul di tempat umum seperti kafe ataupun restoran dan mengobrol tak lupa sesekali memainkan gawainya mungkin sebuah hal yang lumrah. Namun baru-baru ini fenomena sekelompok orang berkumpul di tempat yang biasanya menyediakan layanan wi-fi, terlihat focus memainkan gadget dan memutar posisi gawainya tersebut secara horizontal. Tak jarang teriakan-teriakan seperti “Push mid!” “ambil buff!” “def dong semua” (re:istilah-istilah dalam Mobile Legends) terdengar di sela-sela permainan.

Demam Permainan Multiplayer Online Battle Arena atau MOBA (permainan perang dengan strategi) khususnya Mobile Legends di platform mobile atau gawai memang sedang menjangkit berbagai kalangan usia, baik muda maupun tua. Salah satu penggiat MOBA adalah Deni Gunawan (44) yang memang pada dasarnya menggemari games.

Dulu zaman saya kecil mungkin game-gamenya masih seperti space invader (re:game retro arcade) makin kesini makin canggih salah satunya Mobile Legends ini secara gambar dan cara memainkannya mudah dan menarik karena online”. Ujarnya.

Berbeda dengan Deni, Rayhan (10) mengaku bahwa dirinya menyukai Mobile Legends karena faktor banyaknya konten Mobile Legends yang menjamur di Youtube Indonesia.

“Saya suka nonton Youtube, dan banyak Youtuber (pembuat konten di Youtube) yang saya suka juga mainin game Mobile Legends, kayak Jess no Limit, Warpath, Reza Arap. Makanya saya ikut main juga dan memang asik,” jawab Rayhan.

Salah satu professional player yang juga sekarang ini menjadi Youtuber adalah Justin atau lebih dikenal dengan nama Jess no Limit cukup memiliki dampak besar bagi perkembangan e-sports di platform handphone. Sudah lama menekuni dunia game dan beberapa kali bergabung dengan manajemen tim e-sports professional seperti EVOS membuat keahlian Jess dalam bermain game tak perlu diragukan lagi. Dirinya mengaku sebuah ketidak sengajaan dan iseng saat ia bermain MOBA game di HP dan merekamnya dan dimasukkan ke dalam kanal Youtube-nya.


“Awalnya saya iseng, karena saya bosen main game di komputer, saat tau ada game yang mirip DOTA2 di android saya memutuskan mencobanya. Hasilnya suka dan lebih praktis aja karena bisa main di mana dan kapan saja,” ujar Jess, di suatu sesi wawancara di Youtube.

Selain Jess terampil saat bermain game,dirinya merupakan salah satu Youtuber dengan peningkatan subscribers yang sangat pesat. Dalam waktu kurang dari satu tahun dirinya mampu menjaring sebanyak dua juta lebih subscribers. Sehingga membuat dirinya dianugerahi sebuah penghargaan bergengsi dari salah satu stasiun tv nasional.

“Puji Tuhan itu sebuah berkah dari Tuhan. Usaha saya dalam berlatih bermain selama kurang lebih tujuh jam perhari tidak sia-sia”. Jelasnya.

Namun Jess sadar betul bahwa penontonnya di Youtube banyak dari kalangan anak sekolah tingkat SD hingga SMA, membuat dirinya selalu menyuarakan bahwa sekolah tetap penting.

“Saya sudah menyelesaikan studi saya dan sekarang saya pengangguran, itu kenapa saya bisa focus di dunia game, tapi untuk anak-anak yang mungkin menonton saya. Tetap ingat bahwa sekolah harus menjadi prioritas utama,” tambahnya.

Saat Candu menjadi Can’t Do

Game merupakan sarana hiburan yang ampuh untuk menghilangkan stress. Banyak studi membuktikan bahwa bermain game mampu membawa dampak positif secara fisik maupun psikologi. Namun untuk menjawab permasalahan itu kami berusaha mengunjungi psikolog yang bergerak di bidang psikologi klinis dan anak, juga mendatangi ahli kejiwaaan agar mendapat kejelasan.

Pada 23 April, kami berusaha menemui Prita Pratiwi yang membuat janji terlebih dahulu sebelumnya. Kami bertandang ke kediamannya di kawasan KPAD, Gegerkalong, Bandung. Saat ditanyakan dampak psikologis apa yang akan dihadapi seorang pemain game online khususnya, Prita langsung bercerita mengenai korban anak (usia 5-14) yang pernah ia tangani dan mengalami kasus tersebut.

“Saya pernah menangani kasus anak yang sulit membedakan mana kejadian nyata dan game itu diakibatkan saraf sensorik yang sudah bingung membaca realitas, akibat intensitas dalam bermain games sangat lama. Selain itu emosi juga berpengaruh, anak yang kecanduan game online jarang bertemu orang di kehidupan nyata sehingga secara emosional dan rasa sedikit pudar,” jelas Prita.

Prita menambahkan sebenarnya bermain game sangat baik bagi perkembangan dan psikologi anak asal permainannya sesuai dan alangkah lebih baik jika bermain permainan tatap muka atau contohnya board games yang dimainkan sambil bersosialisasi dengan orang lain.

“Game online mungkin kalo zaman saya dulu macam Ragnarok, atau Counter Strike saya rasa memiliki manfaat ketangkasan dan melatih motoric anak asalkan dengan waktu yang sesuai juga. Selain itu saat main game seseorang dituntut mengambil keputusan secara cepat dan itu berguna bagi anak atau orang yang bersangkutan dalam ia berkehidupan,” paparnya.

Saat diwawancarai melalui telefon pun Bambang Sjuman, Ahli kejiwaan memaparkan ada beberapa efek yang ditimbulkan saat anak atau remaja kecanduan bermain game.

Ada beberapa tahapan yaitu copycat,dimana seseorang meniru apa yang ia lihat, lalu ada numbling effect atau perilaku yang dilihat dalam video game terekam dalam alam bawah sadar, dan emosi yang ditimbulkan dari game-game yang mengandung unsur kekerasan,” ujarnya.

Hal merugikan yang ditimbulkan dari kecanduan game online pernah menimpa seorang mahasiswa universitas swasta di Bandung yaitu Tezar (22). Masa dimana dirinya sering bermain dan menginap di salah satu warnet dekat kampusnya, ia akui adalah masa kelam dalam hidupnya.

“Saya kadang makan dua hari sekali, karena uang habis buat beli voucher games dan bayar billing warnet. Pernah juga saat tidak punya uang saya menggunakan uang kuliahnya dan tidak pernah bilang pada orang tua nya.”

“Mungkin saya kena peringatan juga sama Allah, gara-gara tidak tidur dan menatap layar monitor terus menerus mata saya berair terus menerus hingga pandangan saya kabur selama 2 hari dan harus dibawa ke dokter mata untuk diperiksa,” tegasnya.

“Itu titik dimana saya gak mau lagi nyentuh dan kecanduan lagi sama yang namanya game online,” tambah Tezar.

Berbeda dengan Tezar, Gloria Hamel Natapradja yang sempat viral 2016 silam karena kontroversi tidak bisa membela Negara dan akhirnya diangkat menjadi Duta Pemuda Pelajar Kementrian Pemuda dan Olahraga sampai saat ini berpendapat bahwa Manajemen waktu sangat penting untuk menghindari efek negatif e-sports.

Gloria mengakui bahwa dirinya sangat menyukai bermain game-game online seperti DOTA2 untuk hiburan walaupun kadang saat libur ia bisa menghabiskan waktu lebih lama bermain game ketimbang hari biasanya.

Dengan segala macam prestasi Paskibraka tingkat nasional nampaknya e-sports tidak mengganggu fokus terhadap kewajibannya.

“Pada akhirnya walaupun gue suka banget main game ya tetep itu hanya selingan sebagai hiburan, jangan sampai ngeganggu fokus gue buat ngejar cita-cita,” tukasnya.

Meraup Untung Lewat E-Sports

Meski bagi sebagian orang e-sports masih dianggap hal yang negatif, tetapi tidak bisa dipungkiri kalau e-sports juga memiliki sisi positif. Selain dapat melatih kerja sama dan membantu perkembangan otak, ternyata e-sports juga bisa menjadi sumber pendapatan bagi beberapa orang. Bahkan diambil dari hasil riset yang dilakukan oleh tirto.id kepada 193 responden generasi z Indonesia di Jawa-Bali, sebanyak 9,8 persen generasi z ingin berprofesi sebagai gamers.

Hal ini berkaitan dengan nominal gaji atau hadiah yang didapat dari turnamen-turnamen e-sports yang ada saat ini. Seorang atlet pro yang tergabung dalam tim profesional e-sports dapat menghasilkan hingga belasan bahkan puluhan juta rupiah dalam sebulannya. Belum lagi dari sponsor dan kompetisi-kompetisi skala internasional yang menawarkan uang puluhan juta dollar bagi setiap pemenangnya.

Turnamen DOTA 2 The International misalnya. Turnamen yang pertama digelar di Cologne, Jerman 2011 silam ini, memiliki prizepool atau total hadiah yang menembus angka 1,6 juta dolar Amerika. Angka tersebut terbilang fantastis dilihat dari sejarah perkembangan industri game. Sebelum The International, dilansir dari esportearnings.com, pagelaran CPL World Tour Finals adalah ajang adu bakat game dengan hadiah tertinggi. Saat itu turnamen yang mengangkat game Painkiller hanya berkisar di angka 500 ribu dollar Amerika. Dengan total prizepool sebesar tadi, The International menjadi ajang kompetisi game dengan hadiah terbesar pada masa itu.

The International dalam perkembangannya dari tahun ke tahun pun, memiliki peningkatan prizepool yang sangat signifikan. Jika pada 2011 mencapai angka 1,6 juta dollar Amerika, pada 2014 angka haidahnya meningkat sangat drastis hingga mencapai 10,9 juta dollar Amerika. Setahun setelahnya, angkanya kembali meningkat sebesar nyaris dua kali lipat yaitu mencapai 20,7 juta dollar Amerika.

Meski begitu, adanya persaingan ketat dari seluruh penjuru dunia, menjadi tantangan tersendiri bagi para calon pemain profesional maupun para pemain yang sudah profesional. Namun, hal tersebut tidak menjadi hambatan bagi beberapa orang untuk tetap meraup keuntungan dari dunia game ini. Aldi Fernando misalnya. Mahasiswa Jurusan Teknik Informatika Universitas Multimedia Nusantara semester keenam ini menlihat hobi bermain game-nya sebagai peluang berbisnis. Ia membuka sebuah perusahaan jasa joki game online Mobile Legends bernama Helping Shop di media sosial [email protected]

“Jadi kami memainkan akun mereka (pelanggan) untuk membantu menaikkan rank atau tier yang ada di game ini,” jelasnya ketika diwawancara via LINE pada Kamis (24/5) malam.

Aldi memulai bisnisnya pada akhir Oktober 2017 lalu. Awalnya Aldi tertarik menjalankan bisnis ini karena saran temannya dan melihat bahwa game Mobile Legends memang sedang booming. “Soalnya Rank atau tier dalam mobile legends merupakan sebuah kebanggan bagi para pemainnya,” tambah Aldi ketika ditanya alasannya membuka bisnis ini.

Dalam menjalankan bisnisnya, Aldi mengelola akun [email protected] seorang diri. Namun dalam menjoki, ia mempekerjakan dua puluh orang joki. Dari situ, Aldi sendiri mendapatkan keuntungan bersih senilai sekitar 6 juta rupiah perbulannya.

Lain halnya dengan salah satu joki yang bekerja untuk aldi bernama Resya Adi Nugraha. Ia menyatakan bahwa untuk satu akun ia bisa dibayar 200 ribu hingga 400 ribu rupiah dengan pengerjaan selama satu sampai tiga hari.

“Tapi itu belum dipotong sama owner jokinya, jadi istilahnya saya itu pegawai di sini,” ujar mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran itu ketika ditemui di kampus tersebut pada Kamis (17/5).

Untuk menjadi joki di jasa joki game online ini, tentu tidak bisa dilakukan sembarang orang. Aldi menegaskan bahwa ada kualifikasinya tersendiri. Setiap joki harus memiliki status minimal mythic (ranking tertinggi di Mobile Legends) dan memiliki waktu luang untuk bermain game. Pada saat itu pun Resya mengaku memang ditanya soal rank dan kesibukannya.

“Ya karena memang pengerjaanya butuh cepat kan,” sahutnya.

Selain munculnya bisnis jasa joki, pesatnya perkembangan e-sports di Indonesia juga memberikan dampak terhadap para pembuat konten video di Youtube. Semenjak melejitnya e-sports, para kreator konten di Youtube berlomba-lomba membuat kanal gaming sendiri seiringan dengan ketenaran beberapa youtubers gaming yang ada di dunia seperti PewDiePie, jacksepticeye, KSI, dan lain-lain. Hal inilah yang sedang ditekuni oleh seorang youtuber asal Bandung, Luthfi Himawan.

Gue udah mulai nge-youtube sejak 2010, tapi mulai serius membangun channel gaming itu tahun 2013. Karena memang basic-nya gue suka main game sih,” ujar youtuber yang mengaku terinspirasi dari PewDiePie ini.

Sekitar delapan tahun membangun channel Youtube-nya, kini ia memiliki sebanyak 250 ribuan subscribers. Dari situ diperkirakan ia mendapat pendapatan berkisar 850 dollar amerika hingga 13 ribu dollar amerika atau jika di rupiahkan mencapai 11 juta hingga 180 juta rupiah.

“Itu tergantung traffic penonton dan sponsor juga sih,” ungkapnya seraya menambahkan.

Luthfi sudah merampungkan kuliahnya dan kini menjadi Youtuber merupakan fokus hidupnya. Selama ini ia merasa menjadi Youtuber tidak terlalu mengganggu kesehariannya sebagai makhluk sosial, karena ia masih selalu menyempatkan untuk bertemu teman-temannya di kehidupan nyata. Namun, ia tidak bisa memungkiri kalau menjadi youtuber gaming itu memang ada enak dan tidak enaknya.

“Enaknya kita bisa menghibur dan seneng aja kalau konten kita ditonton dan diapresiasi. Gak enaknya banyak reuploader yang merugikan kita para kreator konten,” ujarnya ketika dihubungi lewat LINE pada Senin (21/5).

Selain para penyedia bisnis joki seperti Aldi dan youtuber gaming seperti Luthfi, pemanfaatan situasi terkini di kancah e-sports Indonesia juga dilakukan oleh warung-warung internet (warnet). Mulai bermunculan warnet yang tidak hanya menyediakan akses internet, tetapi juga menyediakan sarana dan fasilitas bagi para gamers atau atlet e-sports. Salah satu warnetnya adalah Stadium yang terletak di daerah Buah Batu, Bandung, Jawa Barat.


Berita ini bersumber dari Fix Indonesia: Geliat E-Sports di Indonesia
 
Top